Friday, January 23, 2009
♥ Mengenal Sejarah dan Tradisi Kue Keranjang
Imlek merupakan salah satu perayaan terpenting dalam tradisi masyarakat Tionghoa. Selain lekat dengan tradisi pemberian angpao dan sa cap mei atau makan malam di malem Imlek, tradisi sin cia juga kental dengan sajian kue-kue yang khas. Salah satu kue yang populer dalam tradisi ini adalah niangao atau yang populer disebut kue keranjang dan tii kwee dalam dialek Hokkian. Keberadaan kue ini bukan sekadar tradisi begitu saja, namun karena ada kisah yang melatarbelakanginya. Mau tahu?
Dalam kepercayaan zaman dahulu, rakyat Tiongkok percaya bahwa di dapur setiap rumah ada dewa yang dikirim oleh Shang Ti atau Tuhan untuk mengawasi segala tindak tanduk si empunya rumah dalam hal menyediakan masakan tiap hari. Dewa itu sering dikenal dengan sebutan Cauw Kun Kong alias Dewa Tungku atau Dewa Dapur.
Setiap akhir tahun, persisnya tanggal 24 bulan 12 pada kalender Tiongkok, Dewa Tungku selalu pulang ke surga untuk melaporkan tugasnya kepada Shang Ti. Maka untuk menghindarkan hal-hal yang tak menyenangkan bagi rakyat, timbullah kemudian gagasan untuk memberikan hidangan untuk menyenangkan Dewa Tungku agar tak murka. Dengan begitu, asumsi rakyat, Dewa Tungku akan selalu memberikan laporan yang baik-baik mengenai rakyat yang diawasinya kepada Shang Ti.
Setelah berpikir keras beberapa lama, akhirnya rakyat Tiongkok berhasil mencari bentuk sajian bercita rasa manis yang berbentuk kue dalam keranjang. Kue manis inilah yang kemudian dikenal sebagai niangao atau kue tahun baru. Di setiap penggantian tahun, kue ini terus dibuat secara turun temurun hingga akhirnya menjadi tradisi.
Dalam kepercayaan rakyat Tiongkok, kue ini pas disajikan di depan altar atau di dekat tempat sembahyang di rumah. Bentuk kue ini juga selalu dibuat bulat karena bentuk tersebut memaknai keluarga yang merayakan Imlek bisa berkumoul, bersatu, rukun serta bulat tekad dalam menghadapi tahun baru yang datang.
Dari beberapa referensi yang dimiliki, kue niangao ini dibuat dari adonan tepung ketan dan gula yang dikukus. Apabila sudah matang, warnanya berubah menjadi coklat keemasan dengan tekstur lengket dan manis. Pebyebutan kue keranjang diberikan karena memang wadah cetaknya berbentuk keranjang.
Kue ini umumnya dipergunakan sebagai sebagai sesaji pada upacara sembahyang leluhur pada enam hari menjelang Imlek dan puncak perayaan di malam penggantian tahun. Sebagai sesaji, kue ini biasanya tak dimakan sampai Cap Go Meh atau malam ke-15 setelah Imlek.
Mengenai makna dari nama kue ini, kata 'Gao' dalam kata 'niangao' acap terdengar seperti kata 'tinggi'. Tak menjadi heran juga karena kue ini memang kerap disusun tinggi atau bertingkat, dengan bentuk susunan ke atas yang kian mengecil. Penyusunan ini memberikan makna peningkatan dalam hal rezeki atas kemakmuran. Pada zaman dahulu, tingginya kue keranjang menandakan kemakmuran keluarga pemilik rumah. Biasanya kue keranjang juga disusun dengan kue mangkok berwarna merah di bagian atasnya. Ini sebagai simbol kehidupan manis yang kian menanjak dan mekar seperti kue mangkok.
Dalam kepercayaan zaman dahulu, rakyat Tiongkok percaya bahwa di dapur setiap rumah ada dewa yang dikirim oleh Shang Ti atau Tuhan untuk mengawasi segala tindak tanduk si empunya rumah dalam hal menyediakan masakan tiap hari. Dewa itu sering dikenal dengan sebutan Cauw Kun Kong alias Dewa Tungku atau Dewa Dapur.
Setiap akhir tahun, persisnya tanggal 24 bulan 12 pada kalender Tiongkok, Dewa Tungku selalu pulang ke surga untuk melaporkan tugasnya kepada Shang Ti. Maka untuk menghindarkan hal-hal yang tak menyenangkan bagi rakyat, timbullah kemudian gagasan untuk memberikan hidangan untuk menyenangkan Dewa Tungku agar tak murka. Dengan begitu, asumsi rakyat, Dewa Tungku akan selalu memberikan laporan yang baik-baik mengenai rakyat yang diawasinya kepada Shang Ti.
Setelah berpikir keras beberapa lama, akhirnya rakyat Tiongkok berhasil mencari bentuk sajian bercita rasa manis yang berbentuk kue dalam keranjang. Kue manis inilah yang kemudian dikenal sebagai niangao atau kue tahun baru. Di setiap penggantian tahun, kue ini terus dibuat secara turun temurun hingga akhirnya menjadi tradisi.
Dalam kepercayaan rakyat Tiongkok, kue ini pas disajikan di depan altar atau di dekat tempat sembahyang di rumah. Bentuk kue ini juga selalu dibuat bulat karena bentuk tersebut memaknai keluarga yang merayakan Imlek bisa berkumoul, bersatu, rukun serta bulat tekad dalam menghadapi tahun baru yang datang.
Dari beberapa referensi yang dimiliki, kue niangao ini dibuat dari adonan tepung ketan dan gula yang dikukus. Apabila sudah matang, warnanya berubah menjadi coklat keemasan dengan tekstur lengket dan manis. Pebyebutan kue keranjang diberikan karena memang wadah cetaknya berbentuk keranjang.
Kue ini umumnya dipergunakan sebagai sebagai sesaji pada upacara sembahyang leluhur pada enam hari menjelang Imlek dan puncak perayaan di malam penggantian tahun. Sebagai sesaji, kue ini biasanya tak dimakan sampai Cap Go Meh atau malam ke-15 setelah Imlek.
Mengenai makna dari nama kue ini, kata 'Gao' dalam kata 'niangao' acap terdengar seperti kata 'tinggi'. Tak menjadi heran juga karena kue ini memang kerap disusun tinggi atau bertingkat, dengan bentuk susunan ke atas yang kian mengecil. Penyusunan ini memberikan makna peningkatan dalam hal rezeki atas kemakmuran. Pada zaman dahulu, tingginya kue keranjang menandakan kemakmuran keluarga pemilik rumah. Biasanya kue keranjang juga disusun dengan kue mangkok berwarna merah di bagian atasnya. Ini sebagai simbol kehidupan manis yang kian menanjak dan mekar seperti kue mangkok.
Labels: imlek, kue keranjang
1:10 PM



